Catatan tentang sebuah persahabatan
“Ehmm …apa pacar loe gak ngizinin loe jalan ama temen loe? ato loe takut banget keilangan dia sampai loe bela-belain nempel trus ama dia ?”.
Dengan nyali yang seadanya akhirnya gue beranikan diri tanyain masalah ini ke dia. Belakangan gue makin merasa kalo persahabatan gue dengan dia seakan-akan hambar dan mungkin udah mirip ama ranjau darat peninggalan jaman kompeni dulu. Walo udah menahun, tapi kalo gak sengaja keinjek … tetep aja dia akan meledak dan yang tinggal hanyalah puing-puing, tanpa bisa diketahui dengan pasti bagaimana bentuk awalnya. Pelajaran pertama yang gue dapet soal ranjau: mereka tidak memiliki kadaularsa. Gue coba berani ambil resiko dengan apa yang akan gue dapet setelah kata-kata tadi meluncur. Udah capek bilang kenapa persahabatan kita semakin jauh dan semakin gak berbentuk.
Jawaban yang akhirnya gue dapet dari kebekuan sesaat yang mungkin gue sadari imbas dari rasa shock sohib gue setelah dengar statement gue barusan. Kalo dipikir-pikir dan bisa digambarkan shock yang tergambar di muka dia mirip ama emak-emak di sinetron yang mengetahui anak gadisnya hamil di luar nikah (mata sedikit melotot dan mulut agak dimenyong-menyongin ke kanan dan kiri). Gue tau deskripsi gue berlebihan, gue cuma pengen bilang klo dia cukup shock. Tapi jawaban yang gue dapet ternyata gak kalah shocknya.
“Nape sih loe, kok loe posesif banget ama gue ?”.
Plak !!!! jawaban yang cukup menampar gak jelas, kalo di scene 1 cukup gambarin adegan hamil di luar nikah, perasaan dan tampang gue saat itu seperti seorang pemuda tampan nan baik hati yang menolong seorang gadis desa nan anggun yang hampir diperkosa oleh sekelompok preman desa. Maksud si pemuda baik tapi saat dia anterin pulang anak gadisnya malah si pemuda dikirain yang akan perkosa anaknya oleh sang ortu si gadis. Selanjutnya, gue makin dibingungkan dengan istilah posesif. Mana batasan yang wajar antara posesif dan gak posesif. Atau sebegitu tipis dan mikroskopis kah sehingga bedanya susah diliat? Mungkin ada diantara pembaca yang bisa kasih tau ke gue.
Untuk menghindari adegan-adegan yang akhirnya akan disensor karena diwarnai kekerasan (maksud gue kita akan semakin ribut gak jelas), then I decided to stop it asap !. No good to debate a silly thing which won’t come to an end. Tiap orang punya pendapat dalam memandang hal yang benar dan itu normal. Gue masih seperti yang dulu, tapi mungkin temen gue tidak seperti yang dulu lagi. Ada yang berubah cepat. Coba berpikir positif and try to set ‘em free.
Mungkin, ini bukan kasus yang pernah gue sendiri alami di dunia yang kata orang sempit, tapi tetep aja luas menurut gue. Ada gue, loe semua yang pernah jadi korban dari ketidak-adilan saat sohib loe memilih untuk selalu bersama pasangan dan menjauh dari elo, atau sebaliknya … loe mungkin jadi orang yang “freak” yang mengganggap bahwa pacar loe adalah bidadari atau pangeran tampan yang 24 jam sehari harus selalu dijaga dan ditemenin, serta menjamin kalo lutut mereka tidak akan lecet atau ada anak rambut yang nyelip-nyelip ke mata (24 jam sehari kedengaran ekstrim, tapi maksud gue selain di kantor atau kampus dan kesibukan lain di luarnya, pacar adalah kesibukan selanjutnya). Dunia terlalu kecil untuk dihabiskan hanya sibuk dengan pacaran
Yesh I know, gue jomblo dan gue kayak loe bilang ‘gue anti dengan orang pacaran’. Whatever dude ! You don’t know me better than myself. I just don’t care. Bisa jadi loe ngomong gitu dengan kamsut bela diri sendiri dan gak ingin keliatan bersalah. Udah jadi hal umum kalo seseorang terpuruk dalam situasi seperti ini tidak ingin disalahin dan bikin self-defense sendiri.Mungkin sekarang, loe adalah pribadi yang sedang jatuh cinta dan semua yang bisa loe pikirin adalah you, your couple and the world between you. Walo kita akan berdebat sampe mampus sampai millenium ketiga dateng, gak akan ada gunanya. Gue cuma pengen, walo sekarang situasi kita mirip ama gencatan senjata ala Israel dan Palestina di jalur Gaza, dan loe juga gak cukup waktu bahkan hanya 1 jam dalam seminggu saja kita bisa berbagi cerita like we used to do in our previous time, loe tetep akan menjadi ‘sahabat’ gue walaupun intensitas dan kadarnya gak seperti dulu. Gue gak bermaksud bikin loe dalam posisi sulit dan harus memilih satu diantaranya, karena gak ada yang harus dipilih. Cuma hanya pengen menyeimbangkan temen dan pasangan.Besok loe putus cinta then the nice story will blow like a wind (moga ini jangan sampe terjadi), tapi gak demikian dengan persahabatan. Persahabatan itu umumnya kekal, karena intinya dalam bersahabat kita bisa jadi diri kita sendiri dan menerima teman kita apa adanya. Bedakan istilah ‘teman’ dengan ‘sahabat’, so you’ll get the point. Gue gak tau kapan kita bakalan bisa bener-bener menjadi ‘sahabat’ lagi dalam arti sebenarnya. Mungkin besok, mungkin minggu depan, taon depan atau mungkin … tidak akan pernah lagi. Persahabatan tanpa saling komunikasi sama aja dengan makan sayur tanpa garam. HAMBAR !!! This is only 2 cent of my opinion … so no hard-feeling .
Dengan nyali yang seadanya akhirnya gue beranikan diri tanyain masalah ini ke dia. Belakangan gue makin merasa kalo persahabatan gue dengan dia seakan-akan hambar dan mungkin udah mirip ama ranjau darat peninggalan jaman kompeni dulu. Walo udah menahun, tapi kalo gak sengaja keinjek … tetep aja dia akan meledak dan yang tinggal hanyalah puing-puing, tanpa bisa diketahui dengan pasti bagaimana bentuk awalnya. Pelajaran pertama yang gue dapet soal ranjau: mereka tidak memiliki kadaularsa. Gue coba berani ambil resiko dengan apa yang akan gue dapet setelah kata-kata tadi meluncur. Udah capek bilang kenapa persahabatan kita semakin jauh dan semakin gak berbentuk.
Jawaban yang akhirnya gue dapet dari kebekuan sesaat yang mungkin gue sadari imbas dari rasa shock sohib gue setelah dengar statement gue barusan. Kalo dipikir-pikir dan bisa digambarkan shock yang tergambar di muka dia mirip ama emak-emak di sinetron yang mengetahui anak gadisnya hamil di luar nikah (mata sedikit melotot dan mulut agak dimenyong-menyongin ke kanan dan kiri). Gue tau deskripsi gue berlebihan, gue cuma pengen bilang klo dia cukup shock. Tapi jawaban yang gue dapet ternyata gak kalah shocknya.
“Nape sih loe, kok loe posesif banget ama gue ?”.
Plak !!!! jawaban yang cukup menampar gak jelas, kalo di scene 1 cukup gambarin adegan hamil di luar nikah, perasaan dan tampang gue saat itu seperti seorang pemuda tampan nan baik hati yang menolong seorang gadis desa nan anggun yang hampir diperkosa oleh sekelompok preman desa. Maksud si pemuda baik tapi saat dia anterin pulang anak gadisnya malah si pemuda dikirain yang akan perkosa anaknya oleh sang ortu si gadis. Selanjutnya, gue makin dibingungkan dengan istilah posesif. Mana batasan yang wajar antara posesif dan gak posesif. Atau sebegitu tipis dan mikroskopis kah sehingga bedanya susah diliat? Mungkin ada diantara pembaca yang bisa kasih tau ke gue.
Untuk menghindari adegan-adegan yang akhirnya akan disensor karena diwarnai kekerasan (maksud gue kita akan semakin ribut gak jelas), then I decided to stop it asap !. No good to debate a silly thing which won’t come to an end. Tiap orang punya pendapat dalam memandang hal yang benar dan itu normal. Gue masih seperti yang dulu, tapi mungkin temen gue tidak seperti yang dulu lagi. Ada yang berubah cepat. Coba berpikir positif and try to set ‘em free.
Mungkin, ini bukan kasus yang pernah gue sendiri alami di dunia yang kata orang sempit, tapi tetep aja luas menurut gue. Ada gue, loe semua yang pernah jadi korban dari ketidak-adilan saat sohib loe memilih untuk selalu bersama pasangan dan menjauh dari elo, atau sebaliknya … loe mungkin jadi orang yang “freak” yang mengganggap bahwa pacar loe adalah bidadari atau pangeran tampan yang 24 jam sehari harus selalu dijaga dan ditemenin, serta menjamin kalo lutut mereka tidak akan lecet atau ada anak rambut yang nyelip-nyelip ke mata (24 jam sehari kedengaran ekstrim, tapi maksud gue selain di kantor atau kampus dan kesibukan lain di luarnya, pacar adalah kesibukan selanjutnya). Dunia terlalu kecil untuk dihabiskan hanya sibuk dengan pacaran
Yesh I know, gue jomblo dan gue kayak loe bilang ‘gue anti dengan orang pacaran’. Whatever dude ! You don’t know me better than myself. I just don’t care. Bisa jadi loe ngomong gitu dengan kamsut bela diri sendiri dan gak ingin keliatan bersalah. Udah jadi hal umum kalo seseorang terpuruk dalam situasi seperti ini tidak ingin disalahin dan bikin self-defense sendiri.Mungkin sekarang, loe adalah pribadi yang sedang jatuh cinta dan semua yang bisa loe pikirin adalah you, your couple and the world between you. Walo kita akan berdebat sampe mampus sampai millenium ketiga dateng, gak akan ada gunanya. Gue cuma pengen, walo sekarang situasi kita mirip ama gencatan senjata ala Israel dan Palestina di jalur Gaza, dan loe juga gak cukup waktu bahkan hanya 1 jam dalam seminggu saja kita bisa berbagi cerita like we used to do in our previous time, loe tetep akan menjadi ‘sahabat’ gue walaupun intensitas dan kadarnya gak seperti dulu. Gue gak bermaksud bikin loe dalam posisi sulit dan harus memilih satu diantaranya, karena gak ada yang harus dipilih. Cuma hanya pengen menyeimbangkan temen dan pasangan.Besok loe putus cinta then the nice story will blow like a wind (moga ini jangan sampe terjadi), tapi gak demikian dengan persahabatan. Persahabatan itu umumnya kekal, karena intinya dalam bersahabat kita bisa jadi diri kita sendiri dan menerima teman kita apa adanya. Bedakan istilah ‘teman’ dengan ‘sahabat’, so you’ll get the point. Gue gak tau kapan kita bakalan bisa bener-bener menjadi ‘sahabat’ lagi dalam arti sebenarnya. Mungkin besok, mungkin minggu depan, taon depan atau mungkin … tidak akan pernah lagi. Persahabatan tanpa saling komunikasi sama aja dengan makan sayur tanpa garam. HAMBAR !!! This is only 2 cent of my opinion … so no hard-feeling .

