TERJEMAHAN BAHASA / LANGUAGE TRANSLATION

Jumat, 10 Desember 2010

Posted by beck'z_freaks On 11.26 0 komentar

Catatan tentang sebuah persahabatan

“Ehmm …apa pacar loe gak ngizinin loe jalan ama temen loe? ato loe takut banget keilangan dia sampai loe bela-belain nempel trus ama dia ?”.
Dengan nyali yang seadanya akhirnya gue beranikan diri tanyain masalah ini ke dia. Belakangan gue makin merasa kalo persahabatan gue dengan dia seakan-akan hambar dan mungkin udah mirip ama ranjau darat peninggalan jaman kompeni dulu. Walo udah menahun, tapi kalo gak sengaja keinjek … tetep aja dia akan meledak dan yang tinggal hanyalah puing-puing, tanpa bisa diketahui dengan pasti bagaimana bentuk awalnya. Pelajaran pertama yang gue dapet soal ranjau: mereka tidak memiliki kadaularsa. Gue coba berani ambil resiko dengan apa yang akan gue dapet setelah kata-kata tadi meluncur. Udah capek bilang kenapa persahabatan kita semakin jauh dan semakin gak berbentuk.
Jawaban yang akhirnya gue dapet dari kebekuan sesaat yang mungkin gue sadari imbas dari rasa shock sohib gue setelah dengar statement gue barusan. Kalo dipikir-pikir dan bisa digambarkan shock yang tergambar di muka dia mirip ama emak-emak di sinetron yang mengetahui anak gadisnya hamil di luar nikah (mata sedikit melotot dan mulut agak dimenyong-menyongin ke kanan dan kiri). Gue tau deskripsi gue berlebihan, gue cuma pengen bilang klo dia cukup shock. Tapi jawaban yang gue dapet ternyata gak kalah shocknya.
“Nape sih loe, kok loe posesif banget ama gue ?”.
Plak !!!! jawaban yang cukup menampar gak jelas, kalo di scene 1 cukup gambarin adegan hamil di luar nikah, perasaan dan tampang gue saat itu seperti seorang pemuda tampan nan baik hati yang menolong seorang gadis desa nan anggun yang hampir diperkosa oleh sekelompok preman desa. Maksud si pemuda baik tapi saat dia anterin pulang anak gadisnya malah si pemuda dikirain yang akan perkosa anaknya oleh sang ortu si gadis. Selanjutnya, gue makin dibingungkan dengan istilah posesif. Mana batasan yang wajar antara posesif dan gak posesif. Atau sebegitu tipis dan mikroskopis kah sehingga bedanya susah diliat? Mungkin ada diantara pembaca yang bisa kasih tau ke gue.
Untuk menghindari adegan-adegan yang akhirnya akan disensor karena diwarnai kekerasan (maksud gue kita akan semakin ribut gak jelas), then I decided to stop it asap !. No good to debate a silly thing which won’t come to an end. Tiap orang punya pendapat dalam memandang hal yang benar dan itu normal. Gue masih seperti yang dulu, tapi mungkin temen gue tidak seperti yang dulu lagi. Ada yang berubah cepat. Coba berpikir positif and try to set ‘em free.

Mungkin, ini bukan kasus yang pernah gue sendiri alami di dunia yang kata orang sempit, tapi tetep aja luas menurut gue. Ada gue, loe semua yang pernah jadi korban dari ketidak-adilan saat sohib loe memilih untuk selalu bersama pasangan dan menjauh dari elo, atau sebaliknya … loe mungkin jadi orang yang “freak” yang mengganggap bahwa pacar loe adalah bidadari atau pangeran tampan yang 24 jam sehari harus selalu dijaga dan ditemenin, serta menjamin kalo lutut mereka tidak akan lecet atau ada anak rambut yang nyelip-nyelip ke mata (24 jam sehari kedengaran ekstrim, tapi maksud gue selain di kantor atau kampus dan kesibukan lain di luarnya, pacar adalah kesibukan selanjutnya). Dunia terlalu kecil untuk dihabiskan hanya sibuk dengan pacaran
Yesh I know, gue jomblo dan gue kayak loe bilang ‘gue anti dengan orang pacaran’. Whatever dude ! You don’t know me better than myself. I just don’t care. Bisa jadi loe ngomong gitu dengan kamsut bela diri sendiri dan gak ingin keliatan bersalah. Udah jadi hal umum kalo seseorang terpuruk dalam situasi seperti ini tidak ingin disalahin dan bikin self-defense sendiri.Mungkin sekarang, loe adalah pribadi yang sedang jatuh cinta dan semua yang bisa loe pikirin adalah you, your couple and the world between you. Walo kita akan berdebat sampe mampus sampai millenium ketiga dateng, gak akan ada gunanya. Gue cuma pengen, walo sekarang situasi kita mirip ama gencatan senjata ala Israel dan Palestina di jalur Gaza, dan loe juga gak cukup waktu bahkan hanya 1 jam dalam seminggu saja kita bisa berbagi cerita like we used to do in our previous time, loe tetep akan menjadi ‘sahabat’ gue walaupun intensitas dan kadarnya gak seperti dulu. Gue gak bermaksud bikin loe dalam posisi sulit dan harus memilih satu diantaranya, karena gak ada yang harus dipilih. Cuma hanya pengen menyeimbangkan temen dan pasangan.Besok loe putus cinta then the nice story will blow like a wind (moga ini jangan sampe terjadi), tapi gak demikian dengan persahabatan. Persahabatan itu umumnya kekal, karena intinya dalam bersahabat kita bisa jadi diri kita sendiri dan menerima teman kita apa adanya. Bedakan istilah ‘teman’ dengan ‘sahabat’, so you’ll get the point. Gue gak tau kapan kita bakalan bisa bener-bener menjadi ‘sahabat’ lagi dalam arti sebenarnya. Mungkin besok, mungkin minggu depan, taon depan atau mungkin … tidak akan pernah lagi. Persahabatan tanpa saling komunikasi sama aja dengan makan sayur tanpa garam. HAMBAR !!! This is only 2 cent of my opinion … so no hard-feeling .

Posted by beck'z_freaks On 11.21 0 komentar

10 Trik Jitu Mendapatkan & Mempertahankan Persahabatan

Pernah dengar tembang That’s what friends are for, yang dilantunkan Dionne Warwick kan? Lirik lagu yang pernah sangat ngetop di tahun 80-an itu, kayaknya pas untuk menggambarkan betapa pentingnya sebuah persahabatan.
Sahabat itu memang bukan sekadar menjadi teman curhat, teman gaul, tapi juga teman kita di segala suasana, suka maupun duka. Nggak heran, saking pentingnya, maka harga persahabatan itu tak bisa ditawar-tawar. Bahkan tidak pernah bisa tergantikan.
Itulah kenapa tidak sedikit orang yang mengaku menjalin sebuah pertemanan itu sulit, apalagi membangun persahabatan yang diyakini lebih kental unsur kedekatannya itu. Padahal, upaya dan inisiatif mereka dalam membangun persahabatan, tidak bisa dikatakan sembarangan. Bukan cuma rajin menelepon atau mengundang main ke tempat kos, tapi ada juga yang sampai memenej waktu sedemikian rupa agar bisa kursus bahasa Jepang bersama-sama. Kalau begitu, dimana letak kesalahnnya?
Mungkin nggak ada yang salah. Tapi, untuk mendapat sahabat sejati itu memang perlu bersabar. Hal terpenting adalah tidak memaksakan kehendak. Biarkan benih kebersamaan muncul dan tumbuh secara alami. Ada baiknya juga untuk berpegang pada filosofi To have a friend, be a friend. Artinya, bila ingin mendapatkan sahabat, maka Anda harus menjadi sahabat bagi orang itu.
Selain berpegang pada filosofi itu, guna mendapatkan kualitas persahabatan yang solid, Anda bisa mengikuti beberapa langkah berikut ini:
1. Jadilah diri sendiri. Jika Anda percaya kalau diri Anda cukup worthy bagi sebuah persahabatan, maka sikap dan perilaku Anda akan terlihat dari segala hal yang Anda lakukan. Nah, banyak orang yang merasa nyaman dan berpikir positif bila berkawan dengan mereka yang memiliki rasa percaya diri yang cukup baik.
2. Loyal. Sifat loyal merupakan salah satu pilar utama dalam sebuah persahabatan yang solid. Bagaimana tidak. Anda tentunya ingin dipercaya dan bisa mempercayai sahabat Anda bukan? Pun Anda tentu ingin sahabat Anda tetap bersama Anda di saat Anda tengah dalam kesulitan, begitu juga sebaliknya. Untuk itulah dibutuhkan yang namanya rasa setia.
3. Tidak anti kritikan. Sahabat yang sebenarnya konon adalah mereka yang tidak cuma rajin memuji tapi gemar pula memberi kritikan positif. Untuk itu Anda tak perlu anti dengan kritikan mereka karena toh tujuannya demi kebaikan Anda juga bukan?
4. Ringan tangan. Sahabat Anda akan sangat menghargai segala kebaikan dan pertolongan yang Anda berikan. Terlebih jika Anda melakukannya dengan ketulusan hati tanpa embel-embel sesuatu dan tanpa harus diminta olehnya.
5. Fair-minded. Sebagai sahabat, tentunya akan lebih baik jika Anda menelaah sebuah persoalan bersama dari sudut pandang yang berbeda. Cara tersebut kemungkinan akan lebih cepat menyelesaikan permasalahan.
6. Mau mendengar. Dalam menjalin persahabatan, Anda sebaiknya bukan cuma asal mendengar curhat-nya, tapi cobalah untuk memberikan perhatian dan jangan memonopoli pembicaraan.
7. Jangan gunakan teman Anda sebagai penasihat pribadi. Kenapa? Dikit-dikit, curhat, pasti bikin Anda jadi teman yang membosankan. Lain halnya bila Anda telah bertanya pada sahabat Anda apakah ia mau mendengarkan masalah Anda.
8. Berbagi kebahagiaan dengan sahabat. Jangan cuma waktu curhat saja Anda ingat teman, tapi waktu lagi bahagia juga perlu.
9. Jangan lupa ultah teman. Mengingat hari-hari khusus teman adalah keharusan. Kirim kartu atau bunga, untuk menunjukkan bahwa sahabat Anda bernilai besar.
10. Tunjukkan bahwa Anda memikirkan dia ketika Anda tidak bersamanya. Caranya macam-macam, bisa kirim kartu, e-mail, SMS, atau tinggalkan pesan di teleponnya, bila tidak sempat bertemu. Atau, bisa juga Anda kirim artikel dari majalah yang dia sukai

Kamis, 08 Juli 2010

Posted by beck'z_freaks On 10.54 0 komentar

BERPIKIR KRITIS

Berpikir Kritis

Masih melekat dalam ingatan saya, pertanyaan adik sepupu yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas tentang berpikir kritis, ”Mba, kalau menjadi mahasiswa harus kritis ya?” atau ”Kalau sambil kerja kita boleh kritis ngga mba?”. Waktu itu saya tidak tahu jawaban apa yang tepat untuknya. Apa yang dimaksud dengan kata kritis dalam pikirannya?. Dan kritis terhadap apa?.

Saya seorang mahasiswa perguruan tinggi terkenal di kota Bandung, saya juga pernah sekolah menengah tapi waktu itu saya tidak pernah bertanya macam-macam. Saya hanya bisa mengangguk apa yang bapak atau ibu guru katakan. Saya tidak pernah bertanya kenapa begitu dan mengapa begini?.

Berbeda dengan dulu, saya tidak bisa berdiam diri. Berbagai buku telah meracuni pikiran saya. Buku-buku itu mengajak saya untuk berpikir tentang apa yang telah dan akan terjadi. Di sebuah perpustakaan, saya menemukan arti kritis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:466), kritis merupakan sifat yang tidak dapat lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; tajam di penganalisisan.

Tidak lekas percaya, berusaha menemukan kesalahan dan tajam dalam menganalisis apakah hanya itu?. Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (2006:339), menyebut kritis sebagai tajam, teliti, peka, perseptif, responsif, tanggap dan vokal. Kata kritis sangat dekat dengan keras, ketus, menusuk, menyakitkan, pedas dan sederetan kata yang mengandung makna negatif lainnya. Saya pun mengangguk-angguk setuju tentang kedekatan kata itu. Sikap kritis kadang membuat diri kita harus mengorbankan studi, karir, nyawa seperti yang ada di koran-koran. Seorang buruh ditemukan tewas mengenaskan, kegiatan mahasiswa harus dibekukan untuk sementara, atau seorang karyawan diberhentikan secara mendadak karena kekritisan mereka terhadap berbagai aturan-aturan yang berlaku.

Kata kritis juga dekat dengan seseorang yang suka meneliti. Seseorang yang tidak jauh dengan kegiatan mengamati, menekuni, mengobservasi, mempelajari dan sebagainya.

Kegiatan yang selalu saya jumpai dalam kuliah, di setiap tugas-tugas desain atau pun tugas akhir; mempelajari fenomena desain, mengamati terbatasnya ruang bermain anak, menekuni teori estetika, mengobservasi tekstil majalaya dan berbagai kegiatan yang menuntut saya bertanya, mengapa, dimana, kapan, bagaimana, siapa menjadi subyek dan obyeknya. Atau kadang saya berpikir struktural mencari kata-kata yang bermakna seperti siang-malam, baik-buruk, untung-rugi, pintar-bodoh, kaya-miskin. Tidak hanya berhenti pada satu kata melainkan apa relasi antara satu kata dengan kata lain, satu istilah dengan istilah lain, terus berulang-ulang sampai saya menemukan jawaban dalam keterulangan yang menurut saya sebagai tanda atau simbol.

Menurut J.S. Badudu (2005:20) kata kritis termasuk dalam kata-kata serapan. Kata-kata yang memberi penawaran makna. Ketika membaca definisi kritis adalah keadaan krisis, gawat atau genting. Saya akan membaliknya pada sebuah pengalaman sebagai mahasiswa atau pun sebagai seorang karyawan, keadaan krisis, gawat atau genting itulah yang membuat saya berpikir kritis. Dengan kata lain, saya akan berpikir kritis ketika saya merasa terdesak atau dalam keadaan genting. Sikap kritis itu begitu saja muncul seperti ide atau mood yang begitu saja menggerakkan semua organ tubuh untuk merespon keadaan tersebut.

Sampai disini, saya pun semakin penasaran dengan kata kritis itu. Apalagi yang ditawarkan darinya?.

Bahan Bacaan :

Badudu, J.S., 2005. Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia, Jakarta : Buku Kompas

Endarmoko, Eko, 2006. Tesaurus Bahasa Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka

Rabu, 07 Juli 2010

Posted by beck'z_freaks On 08.56 0 komentar

PERSAHABATAN

Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi. Dalam pengertian ini, istilah "persahabatan" menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruisme. selera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka.

Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten:

* kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain.
* simpati dan empati.
* kejujuran, barangkali dalam keadaan-keadaan yang sulit bagi orang lain untuk mengucapkan kebenaran.
* saling pengertian.

Seringkali ada anggapan bahwa sahabat sejati sanggup mengungkapkan perasaan-perasaan yang terdalam, yang mungkin tidak dapat diungkapkan, kecuali dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit, ketika mereka datang untuk menolong. Dibandingkan dengan hubungan pribadi, persahabatan dianggap lebih dekat daripada sekadar kenalan, meskipun dalam persahabatan atau hubungan antar kenalan terdapat tingkat keintiman yang berbeda-beda. Bagi banyak orang, persahabatan dan hubungan antar kenalan terdapat dalam kontinum yang sama.